RSBI-SMPN 1 BIREUEN

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional

  • Administrator

  • Sekolah

    Sekolah adalah tempat minimba ilmu, menjadikan manusia berbikir dan bertindak sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat,.
  • users online
  • IP
  • Face Book guru610
    ULG

Sang Pejuang SMPN 1 Bireuen

Posted by classrsbi on January 25, 2012

“THE 3rd NATIONAL SCIENCE OLYMPIAD SMP RSBI 2012”

1. Tujuan Umum
Olimpiade Nasional RSBI Tahun 2012 bertujuan:Menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat di kalangan peserta didik SMP RSBI dan memperluas wawasan guru serta kepala sekolah melalui pertemuan ilmiah.
2. Tujuan Khusus
a. Menumbuhkan semangat sportifitas dalam kegiatan The 3rd National Science Olympiad SMP RSBI 2012 sebagai modal mengembangkan diri.
b. Memberikan motivasi kepada siswa, guru dan kepala sekolah dalam membimbing peserta didiknya untuk berprestasi.
c. Membekali warga sekolah peserta dengan nuansa keinternasionalan,
d. Menjadikan wahana untuk berbagi (sharing) antar siswa, guru dan kepala sekolah.
e. Memberikan persepsi yang sama tentang penyelengaraan sekolah bertaraf internasional
f. Meningkatkan komitmen yang kuat untuk mengelola sekolah dengan prioritas keberhasilan program rintisan sekolah bertaraf internasional.
Hasil yang Diharapkan
a. Terwujudnya semangat berkompetisi yang sehat di kalangan pelajar.
b. Terwujudnya motivasi bagi tenaga pendidik untuk senantiasa mengembangkan diri
c. Terwujudnya pengambil kebijakan di bidang pendidikan dengan memfasilitasiprogram – program yang tepat untuk peningkatan mutu pendidikan diIndonesia
d. Terwujudnya pengukur tingkat ketercapaian program RSBI.
e. Terpilihnya siswa‐siswa SMP RSBI berprestasi dalam bidang Fisika, Biologi, Matematika dan Bahasa Inggris

Jenis Kegiatan
The 3rd National Science Olympiad SMP RSBI 2012terdiri dari:
1. Olimpiade Mata Pelajaran Matematika, IPA Fisika, IPA Biologi dan Bahasa Inggris
2. Seminar Nasional untuk Guru
3. Seminar Internasional dan Rapat Kerja untuk Kepala Sekolah
4. Pameran Karya Kreatif, Inovatif Siswa dan Guru RSBI
5. City Tour
6. Pentas Seni

Tempat Penyelenggaraan
Sebagian besar kegiatan dilaksanakan di Kota Surakarta dan sebagian dilaksanakan di Kota Magelang
Provinsi Jawa Tengah dengan rincian sebagai berikut:
1. Pembukaan : Hotel Sunan Surakarta
2. Pameran Karya Kreatif dan Inovatif : Hotel Sunan Surakarta
3. Lomba Mata Pelajaran
a. Matematika : SMP Negeri 1 Surakarta
b. IPA Fisika : SMP Negeri 4 Surakarta
c. IPA Biologi : SMP Kalam Kudus Surakarta
d. Bahasa Inggris : SMP Al‐Islam 1 Surakarta
4. Seminar Guru : Gedung Graha Saba Surakarta
5. Rapat Kerja Kepala Sekolah : Hotel Sunan Surakarta
6. City Tour
a. Candi Borobudur Magelang Jawa Tengah
b. SMA Taruna Nusantara Magelang Jawa Tengah
7. Penutupan : Gedung Graha Saba Surakarta

Demikian isi kutipan yang saya kutip dari proposal olimpiade RSBI Ke 3 di solo, adapun yang menjadi pejuang kita yang akan berkompetisi dan mendampingi ke sana adalah sebagai berikut:

”kepsek”

”guru”

”guru”

”zulfatan”

”nabila”

”suzila”

”t.ichsan”

Advertisements

2 Responses to “Sang Pejuang SMPN 1 Bireuen”

  1. DWSHFRA said

    Wish you luck T.Ichsan, Suzila, Zulfatan, Nabila
    do the best 🙂

  2. partai pdk said

    RSBI Tinggal Nama
    SERAMBI INDONESIA
    Kamis, 10 Januari 2013 15:50 WIB

    Oleh Arbai

    POLEMIK menyangkut Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) terjawab sudah. Rabu, 9 Januari 2013, Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa RSBI tidak sesuai konstitusi dan mengabulkan gugatan penggugat tentang keberadaan RSBI yang dipayungi oleh Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal ini telah menjadi dasar hukum penyelenggaraan 1.300-an sekolah berlabel RSBI.

    Keberadaan RSBI ini dinilai telah mendiskriminasi warga negara miskin dan tidak sesuai dengan UUD 1945. Di samping itu RSBI juga dianggap sebagai bentuk diskriminasi dan kastanisasi bagi siswa tidak mampu. Karena pada umumnya anak-anak yang bersekolah di RSBI adalah anak kaum “priayi” yang notabene dari golongan mampu. Walaupun ada quota 20 persen untuk kaum yang kurang mampu, namun itu tak terpenuhi.

    RSBI yang begitu mahal dan menyedot anggaran begitu besar dari Kemendikbud, merupakan bentuk diskriminasi bagi kaum marginal. Sementara sekolah negeri lainnya harus tertatih-tatih dengan fasilitas seadanya. Mereka seakan dijadikan anak tiri oleh pemerintah. Keberadaan RSBI semakin memperlihatkan kesenjangan mutu pendidikan antara sekolah negeri.

    Ironisnya itu terus berjalan hingga kini pada tahun kedelapan pelaksanaannya. Kesenjangan yang tercipta antara sekolah-sekolah mewah itu terus mengganga di antara himpitan banyaknya permasalah pendidikan yang terus saja mendera negeri ini. Lihat saja masih banyak kita temui gedung sekolah bocor, sekolah roboh, dan kurangnya fasilitas yang memadai dan masih banyak lagi yang harus dibenahi bagi kemajuan pendidikan kita.

    Kemudian, prinsip-prinsip pendidikan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia telah di kebiri dalam RSBI, padahal negara Indonesia yang ikut bergabung dan menandatangani perjanjian pada 1990 di Jominten, Thailand, tentang konsep pendidikan untuk semua atau Education for All (EFA). Yang menghasilkan 6 poin kesepakatan, satu di antaranya adalah menjamin bahwa pada 2015 seluruh anak, baik laki-laki maupun perempuan, dari manapun asal dan sukunya sudah mendapatkan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas dan tidak ada diskriminasi.

    Sekolah ‘priyayi’
    Lalu, RSBI juga lebih mengagung-agungkan bahasa Inggris yang digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses pembelajarannya. Hal ini setidaknya sedikit “merendahkan” bahasa Indonesia yang merupakan jatidiri bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai sebuah ilmu pengetahuan di sekolah “priayi” akan sulit berkembang karena bahasa tersebut dianggap sebagai “bahasa kelas dua”.

    Bagaimana mungkin bahasa Indonesia bisa berkembang dalam RSBI, jika guru menggunakan bahasa Inggris dalam pengantar mata pelajarannya. Maka tidak mengherankan bagi kita, jika pada beberapa tahun terakhir ini nilai Ujian Nasional (UN) yang paling banyak rendah adalah nilai bahasa Indonesia. Ini merupakan imbas dari kebijakan RSBI yang lebih mementingkan penggunaan bahasa Inggris.

    Pendidikan yang berkualitas bukanlah tergantung bagaimana mahirnya seseorang menuturkan bahasa asing semisal bahasa Inggris, akan tetapi pendidikan yang berkualitas adalah tercermin dari kemampuan siswanya dalam mengembangkan nalar dan berpikir analitis. Kemudian mereka dapat mengembangkan segala sumber daya yang melekat pada dirinya tanpa harus “dibopong” oleh orang lain.

    Kita butuh anak-anak didik yang berjiwa mandiri yang sanggup berdiri di atas kaki sendiri dengan segala potensi yang dimilikinya. Inilah makna pendidikan yang berasaskan kemandirian anak. Bukan sebagai anak yang fasih berbahasa asing, tetapi tidak memiliki jiwa dan raga sebagai seorang Indonesia. Yang hanya mampu menghambakan diri terhadap asing dan tidak mampu memaknai kemerdekaan secara lebih bermakna.

    Diakui atau tidak pendidikan kita memang jauh tertinggal dalam berbagai hal, baik daya saing mamupun kualitas yang dilahirkan sekolah. Secara sarana dan prasarana pun kita masih kalah bila dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Pun demikian jawabannya bukan dengan cara membuat RSBI yang menjadikan sekolah ajang komersialisasi.

    Jika kita membicarakan mutu. Maka sesuai dengan filosofinya bahwa mutu adalah urusan dan tanggung jawab setiap orang, yang harus terencana, sistematis, dan merupakan sistem terbuka yang harus terus menerus disempurnakan secara berkelanjutan serta menghormati otonomi setiap satuan pendidikan.

    Kita tidak tahu apa jadinya jika MK tidak memvonis RSBI bertentangan dengan konstitusi, karena pada saat ini kesenjangan kemampuan antara sekolah negeri yang ada di pelosok daerah, dengan sekolah negeri yang ada di perkotaan, bagai langit dan bumi. Pemerataan mutu pendidikan tampaknya hanya sebatas retorika. Tidak diikuti implementasi nyata oleh Kemendikbud sebagai satu pemegang otoritas penyelenggara pendidikan.

    Tamparan bagi Kemdikbud
    Pencabutan status RSBI merupakan tamparan nyata bagi Kemendikbud dan hal ini harus disikapi dengan lapang dada dan dilaksanakan sebagai wujud dari kepatuhan hukum dan demokrasi di Indonesia. Kita tidak mau nantinya RSBI hanya berubah namanya saja. Kemudian pascapembubaran RSBI akan menjadi mimpi buruk bagi 1.305 sekolah-sekolah RSBI yang tersebar di seantero Nusantara ini dari setiap jenjang yang ada.

    Mereka tidak akan mendapatkan perlakuan secara istimewa lagi, yang membuat mereka selama ini ekslusif dan melangit sehingga tidak dapat digapai oleh semua anak yang ingin merasakan manisnya sekolah di tempat nyaman dan dipenuhi dengan segala fasilitas yang membuatnya lebih mudah dalam belajar. Namun demikian mereka juga tidak boleh dilupakan begitu saja, harus ada upaya nyata untuk menenangkan kepanikan yang mungkin melandanya pascadikeluarkan keputusan MK.

    Akhirnya dengan keluarnya putusan MK ini kita berharap Kemendikbud akan memberikan perhatian yang lebih luas kepada seluruh sekolah yang ada diberbagai pelosok negeri. Keputusan ini juga hendaknya bisa dijadikan bahan evaluasi diri dan pengalaman berharga untuk ke depannya bagi pengelola pendidikan. Ingat pula experience is the best teacher (pengalaman adalah guru yang paling berharga). Semoga!

    Arbai, S.Pd, Guru SMPN 1 Kluet Timur, Aceh Selatan, kini sedang mengikuti pendidikan S2, Program Magister Manajemen Kepengawasan Kependidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Email: arbai@mail.ugm.ac.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: